Sumber: pexels.com Bermain Ternyata Bisa Menjadi Terapi untuk Anak – Tulisan saya kali ini membahas hal yang cukup biasa kita lihat n...

Bermain Ternyata Bisa Menjadi Terapi untuk Anak

Kamis, Januari 10, 2019 Hindun Uswatun Nisa 21 Comments

Sumber: pexels.com

Bermain Ternyata Bisa Menjadi Terapi untuk Anak – Tulisan saya kali ini membahas hal yang cukup biasa kita lihat namun ternyata memiliki beberapa manfaat. Yups, tentang bermain. Satu kata ini identik dengan anak-anak. Anak-anak memang  sangat suka dengan permainan. Selain dapat memuaskan rasa ingin tahu, anak juga bisa belajar berbagai hal lewat permainan. 
Tak hanya menyenangkan, bermain juga menawarkan berbagai manfaat lainnya untuk tumbuh kembang anak. Itulah mengapa bermain juga dapat dijadikan sebagai kegiatana dalam rangka perawatan untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Metode ini biasa dikenal dengan terapi bermain (play therapy). Beberapa anak dengan kondisi tertentu disarankan untuk melakukan terapi ini.

Manfaat Terapi Bermain untuk Anak
Anak berkebutuhan khusus umumnya mengalami kesulitan untuk melakukan beberapa aktivitas yang bisa dilakukan anak lain dengan mudah. Namun, kondisi seperti ini tidak menjadi penghalang bagi anak untuk bisa beraktivitas, bermain dan berinteraksi dengan teman-teman seusianya. Untuk mengatasinya, biasanya dokter anak ataupun psikolog akan merekomendasikan terapi bermain atau play therapy. Terapi bermain dilakukan dengan berbagai permainan anak, mulai dari bermain boneka, menyusun balok, menggambar, mewarnai dan permainan lainnya.
Beberapa jenis permainan terutama permainan edukasi dapat merangsang motorik dan kecerdasan anak. Pada beberapa anak, daya kreativitasnya lebih muncul saat sedang bermain misalkan bermain lego. Tak hanya kreativitas, saat bermain lego, kesabaran pun di uji. Berikut ini beberapa manfaat play therapy untuk anak:
- Menumbuhkan rasa empati, rasa hormat dan menghargai orang lain
- Meningkatkan pengendalian diri dan keterampilan sosial
- Belajar untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat
- Mengasah kemampuan dalam memecahkan masalah agar lebih baik
- Melatih anak untuk bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

Sumber; pexels.com


Anak yang Direkomendasikan Mengikuti Terapi Bermain
Play therapy sering digunakan sebagai perawatan untuk anak-anak yang merasa tertekan, penuh stres, atau memiliki kondisi medis tertentu. Anak-anak yang membutuhkan terapi ini, diantaranya:
- Anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtua
- Anak yang orangtuanya berpisah.
- Memiliki penyakit kronis, gangguan kecemasan, penyakit ADHD ataupun depresi
- Anak yang ketidaksempurnaan saat lahir, seperti tuli, buta, atau bisu.
- Mengalami gangguan saat belajar seperti disleksia
- Prestasi akademisnya agak memburuk karena satu dan lain hal
- Anak yang pernah trauma akibat kecelakaan, kekerasan dalam rumah tangga, korban bencana alam dan yang lainnya
- Mengalami kesedihan atau cenderung depresi setelah ditinggal orang yang disayanginya.
- Anak yang memiliki fobia terhadap sesuatu  dan menarik diri dari dunia luar.
- Anak yang cenderung bersikap agresif, sulit diatur dan sulit mengendalikan emosi.
Sumber: pexels.com

Setelah mengetahui bahwa beberapa jenis permainan bagus untuk perkembangan anak, maka tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan mainan yang tepat serta mengawasinya saat bermain. Kenali pula beberapa jenis mainan yang cocok dengan usia anak. Jika memberikan permainan yang lebih kompleks dan kurang sesuai dengan usianya, terkadang anak mengalami kesulitan dan menjadi kesal. Maka dari itu yuk mulai belajar memahami bahwa anak memiliki kebutuhan bermain.  Sebaiknya diarahkan atau didampingi di tahap awal, selanjutnya biarkan ia berkreasi dengan imajinasinya sendiri. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat ya!

Salam,



21 comments:

Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya,,, silahkan post komentar Anda

Sumber: pexels.com Tips Aman Menggunakan Bedak Bayi- Bayi yang baru saja selesai dimandikan dan masih dalam balutan handuk memang te...

Tips Aman Menggunakan Bedak Bayi

Sabtu, Januari 05, 2019 Hindun Uswatun Nisa 0 Comments


Sumber: pexels.com

Tips Aman Menggunakan Bedak Bayi- Bayi yang baru saja selesai dimandikan dan masih dalam balutan handuk memang terlihat menggemaskan. Nah, sebagian ibu biasanya akan memakaikan bedak bayi pada tubuhnya agar kulitnya wangi, halus dan terawat. Tapi perlukah bayi dibedaki?  Sebelum ibu sibuk memilih bedak untuk si kecil, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu manfaat memakaikan bedak pada bayi. Nyatanya bedak memang menjadi salah satu produk yang dicari para ibu. Bedak tidak hanya bisa membuat kulit bayi menjadi harum, tapi juga bermanfaat menjaga kelembaban kulit bayi agar tetap dalam kadar pH yang normal.
Kandungan pada bedak bayi bisa membuat kulitnya senantiasa terasa sejuk dan segar. Selain itu, bedak juga berfungsi sebagai pelindung kulit bayi yang masih sangat sensitif. Bedak dapat membantu mengurangi keringat dan melicinkan kulit bayi, terutama di daerah lipatan kulit seperti leher, paha, dan ketiak. Jadi, ketika Si Kecil terus aktif bergerak, kulitnya tidak iritasi akibat banyaknya gesekan. Bila ingin memakaikan bedak  pada tubuh Si Kecil, sebaiknya perhatikan dulu aturan-aturan berikut ini!

Sumber: google.co.id

- Tidak semua bagian tubuh harus diberi bedak bayi. Bagian tubuh yang sebenarnya perlu dibedaki hanya leher, ketiak, serta lipatan paha. Jadi tidak masalah jika tidak rutin menaburkan ke seluruh tubuh.
- Saat memakaikan bedak bayi tabur pada tubuh Si Kecil pun perlu berhati-hati. Cara memakaikan  yang tepat adalah tuang bedak pada telapak tangan ibu terlebih dahulu dan jangan terlalu dekat Si Kecil. Kemudian pelan-pelan baru balurkan ke tubuhnya.
- Hindari memberi bedak terlalu banyak di daerah wajah atau leher karena bisa membuat bayi bersin dan batuk. Pakailah bedak secukupnya sesuai keperluan.
- Pastikan kulit tubuhnya benar-benar kering saat diberi bedak bayi. Bedak yang bercampur dengan keringat bisa mengakibatkan tumbuhnya bakteri dan kuman dengan cepat.
- Usahakan agar bedak tidak menumpuk pada lipatan-lipatan kulit bayi yang bisa menyebabkan iritasi. Cukup usapkan tipis-tipis saja pada kulit agar bedak bayi merata dan tidak menumpuk. 
- Saat ganti popok karena buang air kecil atau besar, sebagian ibu biasanya membersihkan area pantat bayi, kemudian menaburkan bedak bayi sebanyak mungkin sampai ke area lipatan paha. Ini tidak dianjurkan karena dapat membuat sirkulasi udara di area tersebut tertutup dan memicu iritasi. Jadi, bersihkan area pantat dan paha dengan kapas yang sudah dicelup ke dalam air hangat lalu keringkan dengan menggunakan handuk.
- Hindari penggunaan puff saat memberi bedak dan jauhkan tempat bedak dari jangkauan bayi. Tuangkan lalu usapkan dengan lembut ke atas tubuh bayi. Perhatikan sisa bedak yang terkumpul di lipatan kulit bayi setiap kali mengganti popok si kecil.
- Bila mengalami ruam popok, hentikan penggunaan bedak bayi untuk sementara waktu dan gantikan dengan krim ruam popok.

Sumber: pexels.com


        Tidak semua kondisi kulit bayi cocok dengan bedak, karena kulit bayi masih sangat sensitif. Bila timbul reaksi iritasi atau alergi kulit, sebaiknya hentikan pemakaian bedak bayi dan segera konsultasikan dengan dokter. So, jangan asal beli bedak! Perhatikan produk bedak bayi yang dipilih.  Untuk mendapatkan bedak yang melindungi kulit bayi dan harum, ibu bisa order bedak bayi Cussons. Terdapat beberapa varian bedak seperti mild and gentle, soft and smooth, prickly heat dan fresh and nourish dengan masing-masing fungsinya yang berguna bagi kenyamanan Si Kecil. Dengan langkah yang tepat maka kesehatan kulit anak dapat terjaga. Semoga bermanfaat.

Salam,



0 comments:

Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya,,, silahkan post komentar Anda

Sumber: pexels.com Saat remaja, saya senang menulis kata-kata yang menarik, inspirasi ataupun pantun. Saat itu hanya ada keinginan ...

Seberapa Pentingkah Personal Branding Bagi Seorang Penulis?

Kamis, Januari 03, 2019 Hindun Uswatun Nisa 28 Comments


Sumber: pexels.com

Saat remaja, saya senang menulis kata-kata yang menarik, inspirasi ataupun pantun. Saat itu hanya ada keinginan untuk menantang diri sendiri, mampukah saya menulis sesuatu yang dapat membuat orang lain tersenyum  saat membacanya? Perlahan saya pun mulai menuliskan kalimat yang ada dalam pikiran ke dalam postingan facebook, saat itu sama sekali masih awam menjelajah internet karena terbatasnya fasilitas.
        Saya menyadari bahwa sebenarnya hal itu menunjukkan bahwa saya mulai tertarik dengan dunia tulis-menulis. Awal bergabung dengan salah satu grup menulis di facebook pada tahun 2008, saya hanya bisa terkagum-kagum melihat profil dan hasil karya beberapa penulis. Personal branding penulis tersebut dapat terlihat dari akun miliknya. Saya sendiri merasa belum bisa, bahkan hanya untuk menulis satu artikel pun rasanyamasih ragu. Namun kemudian akhir 2017 memberanikan diri mengikuti program menulis dari grup tersebut (berarti selama 9 tahun hanya mengamati ya hehe).
Kali ini yang ingin saya bahas bukan tentang perjalanan saya yang panjang berliku untuk menekuni dunia menulis, tapi tentang personal branding penulis yang membuat saya melirik dunia menulis.           
     Pada tahun 2015, saya memutuskan untuk menjadi reseller dan mempelajari teknik berjualan online khususnya di akun facebook, personal branding sangat diperlukan. Kita ingin dikenal sebagai apa? Dengan seringnya membahas produk yang dijual, maka lama kelamaaan kita akan dikenal sebagai penjual produk tersebut. Jika sudah seperti itu, maka pembeli akan ingat nama kita saat membutuhkan produk yang kita jual. Ini menunjukkan personal branding sudah melekat. Begitu juga dengan personal branding penulis, orang lain tidak akan banyak yang mengetahui bahwa kita seorang penulis, jika  tidak mulai membangun personal branding sebagai seorang penulis.
Sebelum adanya sosial media, bagaimanakah cara untuk mengetahui seseorang adalah penulis? Mungkin dari bukunya yang terbit, tulisannya yang rutin muncul di koran atau majalah atau dari seorang teman yang bilang kalau orang itu adalah penulis. Sekarang berbeda, kita dapat menemui penulis di media-media digital dan profilnya di sosial media. Mereka memang belum menerbitkan buku (cetak) tapi rutin mengunggah tulisan yang bagus di berbagai platform.
 Sebagian dapat bergabung dengan penerbit untuk mencetak tulisan-tulisan digitalnya menjadi buku, bahkan hingga diundang rumah produksi untuk mengadaptasi tulisannya ke film layar lebar. Kini dunia digital dapat menjadi panggung bagi semua orang (termasuk panggung sandiwara..eh). Semua pihak dapat menyoroti panggung bebas ini. Televisi dan radio kini memperoleh sebagian beritanya dari internet. Penulis baru pun bebas menuangkan ide hingga dapat bertemu dengan pihak penerbit buku.

Sumber: pexels.com

Mengenal Personal Branding
Apa itu personal branding? Singkatnya begini. Saat kamu membaca atau mendengar nama Aa Gym apa yang terbayang? Apakah sama dengan Ahmad Dani? Dengan mudah kita akan mengingat perbedaan keduanya. Aa Gym dikenal publik sebagai ulama kondang, sedangkan Ahmad Dani sebagai seorang musisi. Masing-masing memiliki branding yang kuat. Personal branding dapat diartikan sebagai praktik yang dilakukan seseorang untuk memasarkan dirinya sendiri serta karirnya sebagai merk. Nah yang perlu ditelusuri saat membangun personal branding penulis sama seperti saat kita menciptakan merk apapun, yakni bagaimana caranya agar merk kamu (sebagai penulis) dikenal publik?

Membangun Merk Penulis
Untuk meningkatkan keterlihatan (visibilitas) kamu di publik sebagai seorang penulis, kamu perlu lebih sering mengenalkan merk diri. Bangun interaksi dengan lebih banyak orang, nantinya akan lebih memudahkan saat launching atau penjualan buku karena personal branding penulis sudah kuat. Tentu saja, meningkatkan penjualan bukanlah satu-satunya tujuan akhir. 
Dengan memiliki personal branding yang kuat dan melekat, seorang penulis dapat menjadi top of mind di publik. Dampaknya ketika publik membayangkan sebuah topik dan mencari sosok penulis yang sesuai, maka yang terlintas di kepala adalah penulis bersangkutan. Contohnya personal branding Raditya Dika tentunya berbeda dengan Asma Nadia. Keduanya merupakan penulis handal tapi genre yang berbeda.


Sumber: pexels.com

Membangun interaksi penulis tidak selalu ujung-ujungnya buat meningkatkan sales buku. Tujuan yang lebih memuaskan adalah tersampainya pesan penulis ke pembaca. Pelajari tiap tipe sosial media untuk membangun lebih banyak interaksi di internet. Kenali kanal sosial media yang digunakan dan punya kemampuan untuk mengelolanya. Jadi tidak hanya mengunggah konten atau tulisan, tapi juga menjaga keberlangsungan interaksi yang dibangun.
Melalui personal branding penulis akan terbentuk cara publik melihat dirimu dan memperoleh keuntungan darinya. Personal branding bukan seperti pencitraan dalam konotasi yang negatif yang sengaja dibuat. melainkan sebuah kerja yang dilakukan secara jujur dan sepenuh hati. Bukan kepura-puraan.

Jadi jika ingin dikenal sebagai penulis, jangan berakting menjadi penulis. Sesering apapun kamu menyebut dirimu sendiri sebagai penulis di depan followers, semua takkan banyak berguna jika kamu tidak menulis sesuatu yang kuat. Merk bisa saja dibangun secanggih mungkin dan lengkap. Namun, kepercayaan harus tetap dijaga melalui interaksi. Tetap menjadi diri sendiri dan kembangkan potensi yang dimiliki.
Tulisan ini diikutsertakan dalam one day one post bersama estrilook community
#ODOP #Day2 #Estrilookcommunity

Salam, 


28 comments:

Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya,,, silahkan post komentar Anda

Waktu makan bisa menjadi momen pertarungan sengit antara ibu dan anak. Sudah bukan hal yang aneh lagi jika beberapa balita makan beranta...

Melatih Anak Makan dengan Mandiri

Selasa, Januari 01, 2019 Hindun Uswatun Nisa 13 Comments


Waktu makan bisa menjadi momen pertarungan sengit antara ibu dan anak. Sudah bukan hal yang aneh lagi jika beberapa balita makan berantakan saat makan tanpa disuapi. Terkadang hal ini membuat sang ibu cemberut termasuk saya hehe. Makanan pun terbuang percuma dan tentu saja perlu tenaga tambahan untuk membersihkannya. Ketika mood ibu sedang kurang bagus, biasanya semakin kesal melihat makanan berantakan. Beberapa orang tua tampak santai dan menganggap hal tersebut wajar karena anak dalam tahap belajar.  
Setiap kali merasa kenyang ataupun bosan, anak biasanya akan memainkan makanannya hingga jatuh berserakan. Jika diperhatikan, si kecil malah tampak senang dan fokus melakukannya, padahal justru membuat orang tua kesal dan mulai pusing tujuh keliling. Lalu, adakah cara menghadapi anak makan berantakan tanpa perlu emosi? 

Penyebab Anak Makan Berantakan


Wajar saja jika orang tua merasa jengkel saat melihat makanan anak berantakan di mana-mana. Bagaimana tidak, makanan yang sudah dibuat susah payah malah terbuang sia-sia. Hal ini memang wajar terjadi pada anak yang berusia dibawah dua tahun. Pada fase ini, anak belum mampu mengendalikan gerakan tangannya sendiri untuk mengambil, menyendok ataupun menjaga makanannya tetap di dalam mangkuk. Akhirnya anak melakukan apa pun sesuka hatinya, termasuk melempar makanan.
Sebenarnya tak perlu khawatir berlebihan. Hampir semua ibu pasti akan mengalami fase ini. Semakin sering anak makan berantakan, perkembangan motorik anak justru semakin terlatih dan mulai berkembang. Perlahan anak akan belajar mengendalikan tangannya sendiri dan berusaha makan dengan rapi.

Tips Menghadapi Anak Saat Makan Berantakan


Perasaan kesal saat melihat berantakan memang wajar. Tapi jangan terburu-buru tarik urat atau marah kepada anak, ya. Ingatlah bahwa ini merupakan salah satu tahap penting di mana anak sedang belajar makan sendiri. Trik-trik khusus berikut ini bisa dilakukan untuk menghadapi anak makan berantakan!

1. Bersikap Tenang
Meski tak mudah, berusahalah bersikap tenang di depan anak.  Meski terlihat main-main dan berantakan, si kecil sebenarnya sedang mengasah perkembangan motoriknya dengan belajar makan sendiri. Biarkan anak belajar mengenal tekstur makanan dengan memegang, mengunyah, atau bahkan melempar makanan ke lantai. Berikan beberapa jenis makanan dengan tekstur berbeda. Contohnya sup dengan tekstur cair, perkedel dengan tekstur lembek dan potongan buah yang teksturnya lebih keras.

2. Berikan Makanan dengan Porsi Lebih Sedikit dari Biasanya
Terkadang anak menyisakan makanan karena merasa sudah kenyang. Tentu saja ia lebih tertarik untuk memainkan dibandingkan memakannya. Cobalah kurangi porsi makannya menjadi lebih sedikit. Ketika si kecil mulai melempar makanannya, jangan terburu-buru membersihkannya. Biarkan anak bereksplorasi sampai merasa puas, baru kemudian dibersihkan.



3. Perhatikan Waktu Makan
Buatlah jadwal khusus kapan anak harus makan dan seberapa lama. Tak hanya bermanfaat untuk mendisiplinkan saat makan, hal ini juga membantu mencegah anak makan berantakan. Siapkan makanan ketika ia benar-benar lapar. Dudukkan buah hati di kursi makan (high chair) dan temani sampai ia selesai makan. Meskipun membatasi waktu makan, bukan berarti memaksakan anak mengunyah makanannya cepat-cepat. Perhitungkan waktu dengan tepat agar anak bisa makan tanpa terburu-buru, tapi juga tidak terlalu lama.

4. Sediakan Alat Makan Khusus
Alat makan yang digunakan bisa mempengaruhi kebiasaan makan anak. Makanan yang ada di atas sendok atau mangkuk yang cukup datar lebih mudah jatuh dan gampang berantakan. Gunakan sendok atau mangkuk yang lengkungannya cukup dalam agar makanan tidak gampang tercecer. Bisa juga dengan memakaikan celemek khusus yang terdapat kantong penampung di bawahnya.

5. Kenali Tanda Anak Kenyang
Setelah kenyang dan masih tersisa makanan di piring, anak biasanya merasa bosan dan mulai mencari hal-hal lain yang menarik. Mereka memainkan apa saja yang ada di hadapannya, termasuk sisa makanan. Kenali tanda anak mulai kenyang makan. Biasanya, anak mulai menurunkan kecepatan saat mengunyah makanan atau menutup bibirnya saat merasa kenyang. Jika sudah mulai terlihat tanda seperti itu, segeralah ambil sisa makanan anak lalu bersihkan tubuh si kecil. Jika anak mulai melempar makanannya, segera alihkan perhatian si kecil dengan mainan favoritnya.



Kenapa Penting Mengajarkan Anak Makan Sendiri?

Makan merupakan kebutuhan dasar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak guna mendukung perkembangan dan pertumbuhannya. Keterampilan anak makan sendiri merupakan salah satu tahapan perkembangan anak yang sangat penting. Kegiatan makan ini melibatkan banyak kemampuan yang harus dikuasai anak. Banyak tahapan yang dilalui anak untuk bisa mengantarkan makanan sampai ke dalam mulutnya. Pertama, anak melihat makanannya, mengambil makanannya dengan tangan, kemudian membawanya sampai ke mulut, menyesuaikan makanan dengan letak mulutnya, membuka mulut, mengunyah sampai menelan makanan. 
Setelah bisa makan dengan tangan, anak lalu mengembangkan kemampuan makan dengan sendok dan garpu. Memegang sendok merupakan salah satu cara mengembangkan keterampilan motorik halus anak. Selain itu, makan sendiri juga melibatkan banyak perasaan, kemampuan indera anak serta  melatih kemandirian anak. 

Tahapan untuk Mengajari Anak Makan Sendiri


Saat mulai memperkenalkan anak dengan makanan padat, anak mungkin mulai menunjukkan keinginannya untuk makan sendiri. Saat menyuapinya dengan sendok, mungkin anak ingin memegang sendok juga. Anak mungkin ingin mengambil makanan dengan sendok dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ini merupakan awal yang baik dan harus didukung.

1. Berikan makanan yang bisa dipegang oleh tangan (finger food)
Memberi finger food dapat melatih anak menggenggam makanan lalu membawa makanan sampai ke mulut dan memakannya. Makanan yang dapat digunakan sebagai finger food biasanya makanan yang mudah digenggam anak dan bertekstur lunak. Contohnya buah apel yang dipotong, pepaya, brokoli kukus, wortel kukus dan sebagainya. Tahapan ini bisa dimulai saat usia anak menginjak 8 bulan. Atau ketika anak sudah mampu mengambil benda yang ada di sekelilingnya, duduk sendiri, serta sudah mampu mengunyah dan mengeluarkan makanan. Perkembangan bisa berbeda-beda antar anak.

2. Mengenalkan sendok sebagai alat untuk makan
Setelah bisa makan sendiri dengan finger food, ajak anak untuk makan menggunakan sendok. Tahapan memperkenalkan anak makan dengan sendok dapat dimulai sekitar usia 13-15 bulan. Walaupun anak makan sendiri dengan sendok kemungkinana kotor karena makanan terjatuh, namun membiarkan anak makan dengan sendok pada usia lebih dini dapat mendorongnya untuk belajar mengembangkan kemampuan makan sendiri.  Pada usia 18 bulan, anak mungkin lebih lihai menggunakan sendok untuk makan. Pada usia 2 tahun atau 3 tahun, anak mungkin sudah mampu menggunakan sendok untuk makan tanpa terjatuh. Anda  hanya perlu membantu memotong kecil-kecil makanan agar anak dapat mengambilnya dengan mudah.

Itulah beberapa tahapan melatih makan anak. Perlu digarisbawahi oleh orang tua bahwa perkembangan tiap anak memang berbeda-beda termasuk dalam hal kemandirian. Tetaplah menyemangati anak untuk tetap berusaha belajar makan dengan lebih mandiri. Semoga bermanfaat!

Tulisan ini diikutsertakan dalam ODOP bersama Estrilook Community

#DAY1 #ODOP #Estrilookcommunity

13 comments:

Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya,,, silahkan post komentar Anda